Mendidik Anak Di ERa Digital (Orang Tua Hebat 3)

MediaSuaraMabes, Jakarta – Orangtua hebat adalah perkumpulan orangtua yang peduli akan kesejahteraan anak dari segala sisi. Orangtua hebat Memberikan seminar tentang Anak, Remaja dan Orangtua, Pendidikan, Keluarga, dan Perkawinan. Grup ini dibuat oleh Ani Fegda / Psikolog. Jurnalis pusat Media Suara Mabes, turut menghadiri zoominarnya.

“Orang tua hebat bukan sekadar pemburu nilai ekonomi semata, tapi pengejar ilmu dan pengetahuan, agar tumbuh kembang anaknya berjalan dengan baik dan benar.

Ani Fegda peduli pada proses kehidupan Pendidikan kepemimpinan karir dan perempuan 3 aspek ini adalah pasionya dalam fokus pada perempuan inilah AniFegda banyak memberikan Parenting dan pendidikan seksualitas. Ia adalah founder dari Esensi Mitra Solusi sebah kosulan dibidang Psikolog dan -pengembangan SDM.

Layanan yang dilakukan adalah Psikotes utk anak sekolah untuk mengetahui minat,bakat dan mencari solusi atas beragam permasalahan belajar.Psikotes juga dilakukan untuk seleksi dan promosi kayawan. Selain PT Esensi juga memberikan layanan pelatihan karyawan coaching dan counseling untuk memberikan jalan terbaik bagi pengembangan karier’

Dalam zoominar 15 Mei 2023 tentang Orang tua harus waspada dengan Digital Dark Side bagi anaknya Ani Fegda mengatakan bahwa Teknologi banyak memberikan pengaruh pada bidang psikologi. Kecerdasan Teknologi.

Menawarkan Novelty yang tinggi kata Ani Fegda . Novelty lanjutnya adalah pembaruan atau originalitas atau teman baru, bisa dalam bentuk berbagai bentuk kaya ilmu, seni dan hal-hal lain yang bersifat melampaui ( beyon), atau Novelty dapat dihasilkan melalui episteme menggunakan kreatifitas analogi dan model mental.

Apa kaitannya dengan Dunia Psikologis virtual Reality Therapi. Terapi yang melibatkan sebuah pengondisian atau pemaparan langsung sebuah jarak atau stimulus yang menjadi seseorang mengalami gangguan. Model terapi ini banyak digunakan untuk membantu orang-orang dengan gangguan kecemasan,OCD dan juga beberapa fobia yang bersifat spesipik.

Baca Juga :  Bupati Beltim Buka Pentas Seni

Dalam Zoominar tersebut dibawakan pula oleh Hanlie Muliani,M.Psi, Child and Clinical Psychologist. Ia mengatakan Untuk itu, orang tua harus menjadi cerdas, kreatif dan terus berinovasi. Serta memiliki akses yang cepat dan luas pada teknologi. “Orang tua jangan ketinggalan dengan anak-anaknya dalam hal penggunaan teknologi.

SEGITIGA HATI NURANI

“Like” Dapat membuat perilaku buruk menjadi baik. Hollywood telah lama bergulat dengan kelompok orangtua yang khawatir film kekerassn atau selalu seksual dan bram-a negatif pada perilaku remaja, ketakutan serupa tentang remaja yang menyaksikan perilaku buruk di media sosial, mungkin beralasan.

“Penelitian yang memeriksa otak remaja berada di media sosial, yang disimulasikan mengungkapkan bahwa ketika terpapar gambaratau video tidak benar dan berbahaya, aktifasi yang prefrontal konteks diamati penunjukkan penghambatan yang sehat terhadap maladaptif kata Pristein kepada anggota parlemen.

Prefrontal konteks membantu keputusan yang cerdas dan dan aman), Namun masalah nya, Pristein mengatakan, ketika remaja melihat perilaku illegal dan atau berbahaya yang sama dimedia sosial bersama dengan ikon yang menyatakan bahwa mereka telah di-like oleh orang lain, bagian otak yang membuat kita aman juga membuat kita berhenti bekerja menujukkan bahwa like dapat mengurangi hambatan remaja (yaitu meningkatkan kecenderungan mereka), terhadap perilaku berbahaya dan tidak benar.

Dengan kata lain perilaku buruk terasa buruk sampai orang lain asosial menyukainya ’Media sosial juga sambung Hanlie Muliani membuat perilaku yang tidak baik untuk perkembangn psikologi terlihat baik.

Pristein berbicara secara khusus tentang situs atau akun yang mempromosikan perilaku gangguan makan dan melukai diri sendiri seperti self harming (menyakiti dirinya sendiri). Penelitian menujukkan bahwa konten ini telah menjamur di media sosial, tidak hanya menggambarkan perilaku ini, tetapi mengajari anak muda cara terlibat, cara menyembunyikan perilaku ini dari orang dewasa.

Baca Juga :  AA. Mapparesa, Ketapang Adalah Mercusuar Nusantara

Secara aktif mendorong pengguna untuk terlibat dalam perilaku ini dan memberikan sanksi sosial kepada mereka yang mengungkapkan keinginan untuk perilaku yang kurang beresiko. Sulit untuk tidak membandingkan diri anda dengan apa yang anda lihat di media sosial. Bahkan orang dewasapun merasakannya.

Kita masuk ke media sosial dan mebandingkan diri kita dengan orang lain diluar sana, sambung Hanli. Dari liburan foto kita hingga fisik dan wajah kita, penampilan kita dan perasan kita berdasarkan siapa yng mendapatkan “ like” dan berdasarkan siapa yang mendapatkan “like” dan siapa yang tidak.

Bagi remaja dampak perbandingan semacam itu bisa lebih besar. Ilmu Psikologi kata Hanlie menujukkan bahwa paparan konten online ini dikaitkan dengan citra diri yang lebih rendah dan persepsi tubuh yang terdistorsi dikalangan anak muda. Paparan ini mencptakan faktor risiko yang kuat untuk gaguan makan, perilaku, mengatur berat badan yang tidak sehat dan depressi demikian kesaksian Pristein kata Hanlie ( Ring-o).

Comment