MediaSuaraMabes, Gunungkidul, Yogyakarta — Bertempat di balai Kalurahan Bandung, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Minggu malam (24/10/2021) di langsungkan acara hari ulang Tahun Kalurahan Bandung ke 184 secara sederhana dengan di iringi gamelan dan tarian tradisional Jawa.
Acara tersebut di hadiri Kepala Kalurahan, Mawal Edi Tri Kusmantya, Bhabinkamtibmas, Bripka Antonius Henriyanto, Babinsa, Serka Fajar Sudiman, Ketua Bamuskal, Purwanto M.Pd, Kamituwa, Sagiyono, para Pamong Kalurahan, Tokoh Agama, serta Tokoh Masyarakat.
Saat di temui awak media, kepala Kalurahan Bandung menjelaskan, “Kami mengadakan kegiatan ini di latar belakangi oleh terbitnya buku sejarah Kalurahan Bandung. Beberapa waktu yang lalu Pemerintah Kalurahan membentuk tim penulis dan di fasilitasi oleh dinas kebudayaan serta melakukan pendampingan.
“Proses menelusuri sejarah ini memakan waktu sekitar 1 tahun lamanya, kemudian kami menggunakan dua metode dalam penulisan buku sejarah tersebut. Metode pertama dengan cara mewawancarai pelaku-pelaku tokoh sejarah yang ada di Kalurahan Bandung maupun yang di luar Kalurahan yang mengetahui tentang sejarah adanya Kalurahan Bandung. Metode yang kedua kami menggunakan cara mediasi secara supranatural. “Alhamdulillah dengan cara menggunakan dua metode tersebut buku sejarah Kalurahan Bandung bisa terangkum.
Mawal juga menceritkan sedikit mengenai sejarah singkat Kalurahan Bandung, “Sejarah Kalurahan Bandung diambil dari nama sumur yang sudah ada sejak zaman para wali. Pada zaman itu diceritakan para wali sedang beristirahat untuk meminta air kepada salah seorang warga yang bernama Eyang Jatisari.

Kemudia Eyang Jatisari menancapkan sebatang lidi atau sada dalam bahasa jawa dan berpesan kepada para wali untuk mencabut lidi tersebut dengan harapan akan muncul sumber mata air.
Para wali pun melakukan pesan dari Eyang Jatisari untuk mecabut lidi tersebut dan muncullah tujuh sumber mata air. Eyang Jatisari juga berpesan apabila air yang keluar terlalu banyak maka harus di tutup atau dibendung dengan peralatan dapur, karena air yang muncul sangat deras maka terbentuklah sebuah bendungan yang saat ini menjadi nama Kalurahan Bandung.
Cerita versi berbeda pun ada yang mengatakan bahwa sumur Bandung memiliki hubungan cerita dengan legenda Bandung Bandowoso dan Nyi Roro Jonggrang.
Dari cerita tersebut maka hari jadi Kalurahan Bandung di tetapkan tanggal 25 Oktober dan hari jadi ini baru pertama kali di laksanakan setelah buku sejarah ini terbit”.
Selanjutnya, Mawal menyampaikan harapannya agar di tahun yang akan datang kegiatan seperti ini bisa lebih meriah dan mudah-mudahan Pandemi Covid-19 segera hilang dan keadaan kembali pulih kembali. “Kami juga berharap agar masyarakat bisa mengetahui proses terjadinya Kalurahan Bandung dan menghargai serta meneladani pendahulu-pendahulu kita dalam merintis Kalurahan ini dan juga untuk memberi semangat bagi kami untuk terus membangun Kalurahan Bandung ini”, pungkas Mawal.
(BILLY)
- Kodim 0314/Inhil Antusias Realisasikan Program Pembangunan KDKMP, Babinsa Pekan Arba Turun Langsung - April 25, 2026
- Peringati Harlah ke-92, GP Ansor Harus Mendefinisikan Ulang Arah Gerakan - April 25, 2026
- Fenomena Negatif di Media Sosial Kian Marak, MSM Desak Pemerintah Perketat Pengawasan Platform TikTok - April 25, 2026









Comment