MediaSuaraMabes, Jakarta – Di saat soekarno di kenal sebagai penakluk hati wanita, muhammad hatta adalah kebalikannya. Ia seperti “biksu” dalam revolusi, hening, serius dan kaku.
Sejak muda, hatta mengucap sumpah keramat yang membuat keluarganya cemas: “Saya tidak akan menikah sebelum indonesia merdeka” Baginya, cinta pada tanah air harus tuntas dulu, baru cinta pada wanita boleh tumbuh.
17 agustus 1945 indonesia merdeka, janji hatta lunas. Sang proklamator akhirnya mengizinkan hatinya untuk terbuka. Pilihannya jatuh pada rachmi rachim (yuke), gadis yang jauh lebih muda darinya. Hatta saat itu berusia 43 tahun sementara rachmi 19 tahun. Bukan dengan rayuan gombal, hatta melamar dengan cara yang kaku tapi tulus
18 november 1945 di sebuah villa di megamendung bogor, pernikahan itu di gelar sederhana. Tidak ada pesta pora, suasana masih genting karena perang revolusi melawan sekutu. Bung karno hadir sebagai saksi, yang paling mengejutkan adalah mas kawin yang di bawa hatta.
Bukan emas berkilau, bukan pula uang bergepok gepok. Bung hatta memberikan mahar berupa buku karangannya sendiri berjudul “Alam pikiran yunani. Hatta menulis buku itu saat masa pembuangan di banda neira, baginya ilmu adalah harta termahal yang bisa ia berikan kepada istri tercintanya, lebih abadi daripada berlian.
Menjadi istri Hatta bukanlah hal mudah. Rahmi harus siap hidup dengan standar kejujuran yang begitu ketat. Hatta sangat keras memisahkan uang negara dan uang pribadi. Pernah suatu kali, Rahmi menyisihkan uang belanja untuk membeli mesin jahit. Hatta menegurnya, Baginya penghematan negara tidak boleh masuk ke kantong pribadi, meski itu istri sendiri.
Inilah kisah paling mengharukan tentang kesederhanaan mereka, Hatta sangat ingin memiliki sepatu bermerk Bally. Namun, uang tabungannya tak pernah cukup. Hatta kemudian menggunting iklan sepatu itu dari koran, menyimpannya di dompet, berharap suatu hari bisa membelinya. Tapi apa daya?kebutuhan rumah tangga dan bantuan untuk kerabat lebih ia utamakan.
Hingga akhir hayatnya pada 14 Maret 1980, guntingan iklan sepatu Bally itu masih tersimpan lusuh di dompetnya. Seorang mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, meninggal tanpa mampu, membeli sepatu impiannya. Rahmi melepas kepergian suaminya dengan bangga. Ia tidak mewarisi harta melimpah, tapi ia mewarisi nama besar suami yang bersih tanpa cela.
Cinta Hatta dan Rahmi mengajarkan kita satu hal langka di zaman ini: Bahwa kehormatan dan integritas jauh lebih seksi daripada kemewahan. Mereka membuktikan bahwa bahagia, bisa dibangun di atas kesederhanaan.
Terima kasih, Bung Hatta.
Sudah mengajarkan kami arti kata “PEJABAT”.
Sumber: arsip peristiwa
Editor : Wajidi Adiansyah
- Pimpinan Umum Media Suara Mabes Tekankan Wartawan Jalankan Tugas Sesuai Fungsi Pers - January 30, 2026
- Jendral Listyo Prabowo Tegas Tolak Polri Di Bawah Kemendagri - January 29, 2026
- Janji Tidak Menikah Sebelum Merdeka Terwujud Dari Sang Proklamator Kemerdekaan - January 27, 2026









Comment