MediaSuaraMabes, Jakarta — Tidak semua orang mampu mengubah luka menjadi kekuatan, keterbatasan menjadi motivasi, dan ujian hidup menjadi jalan menuju kemuliaan. Namun hal itulah yang berhasil dibuktikan oleh Prof. Dr. Drs. Ir. H. Achmad Tarmizi, SE, SH, ST, MT, M.Si, MH, MPd, Ph.D (HC), sosok putra terbaik Sumatera Selatan yang dikenal luas sebagai pemecah Rekor MURI dengan gelar akademik terbanyak di Indonesia.
Lahir di Palembang pada 9 Juni 1966, Achmad Tarmizi berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Ayahandanya, H. Ahluddin (Almarhum), merupakan Pesirah Kepala Marga Dawas yang dihormati masyarakat pada masanya. Masa kecil beliau sebenarnya dipenuhi kebahagiaan dan kehidupan yang cukup sejahtera.
Salah satu kenangan yang paling membekas dalam hidupnya adalah saat sang ayah mengajak dirinya berkeliling desa menggunakan sepeda motor Honda — kendaraan yang saat itu menjadi satu-satunya motor di desa mereka. Sebuah kenangan sederhana, namun sangat berarti bagi seorang anak kecil yang begitu mencintai ayahnya.
Namun takdir Allah berkata lain. Saat usianya baru menginjak empat tahun, sang ayah meninggal dunia secara mendadak. Kehilangan besar itu menjadi titik awal perjuangan hidupnya. Sejak saat itu, sosok ibunda dan nenek menjadi cahaya yang membimbing perjalanan hidupnya.
Dari ibundanya, Achmad Tarmizi belajar arti keteguhan, kesabaran, dan kerja keras. Sang ibu tidak pernah mengeluh tentang kehidupan, tidak pernah memperlihatkan kesedihan di depan anak-anaknya, dan selalu mengajarkan untuk tetap kuat dalam keadaan apa pun.
“Berbuat baiklah sepanjang waktu, terutama kepada ibumu,” menjadi nasihat hidup yang selalu beliau pegang hingga hari ini.
Sejak kecil, beliau memiliki cita-cita besar: ingin menjadi Presiden. Semangat belajar yang tinggi membuatnya terus menempuh pendidikan di Kota Palembang hingga perguruan tinggi. Mata pelajaran favoritnya adalah IPA, dan sejak sekolah ia dikenal sebagai pribadi mandiri, tekun, serta pantang menyerah.
Perjalanan kariernya dimulai dari titik yang sangat sederhana. Ia pernah menjadi guru honorer di beberapa sekolah swasta dengan penghasilan yang sangat minim. Dari pagi hingga sore hari beliau mengajar demi mempertahankan hidup dan memperjuangkan masa depan.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan mimpi besar yang terus menyala.
Beliau terus belajar tanpa mengenal lelah. Baginya, pendidikan bukan sekadar mencari gelar, melainkan jalan untuk mengubah nasib dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
Kerja keras dan ketekunannya akhirnya mengantarkan beliau menapaki berbagai jabatan penting. Salah satu keputusan paling berat dalam hidupnya adalah ketika harus meninggalkan dua jabatan kepala sekolah demi mengikuti tes Pegawai Negeri Sipil. Keputusan besar itu menjadi awal dari perjalanan panjang menuju dunia birokrasi dan kepemimpinan.
Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis pemerintahan. Momen paling membanggakan dalam perjuangannya adalah ketika dilantik menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) OKU oleh Bupati OKU, kemudian dipercaya menjadi Pelaksana Harian (Plh.) Bupati OKU oleh Gubernur Sumatera Selatan, serta dilantik sebagai Kepala Biro Organisasi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Namun di balik semua pencapaian itu, beliau tetap dikenal sebagai sosok rendah hati dan religius.
Dalam perjalanan hidupnya, ujian berat pernah datang saat dirinya terpapar COVID-19 pada tahun 2021. Saat itu, beliau merasakan perjuangan antara hidup dan mati. Pengalaman tersebut menjadi titik perenungan mendalam bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
“Dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu. Kesuksesan sejati bukan tentang pangkat, jabatan, atau banyaknya gelar, tetapi ketika kedua kaki kita berhasil menginjak Surga Firdaus,” ungkap beliau.
Dari pengalaman itu pula, spiritualitas beliau semakin kuat. Sejak kecil beliau berusaha menjaga shalat lima waktu, dan akhirnya menyadari bahwa perjalanan paling berat dalam hidup adalah menjaga langkah menuju masjid untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang senantiasa berdzikir dalam setiap kesempatan. Salah satu pengalaman spiritual yang paling membekas baginya adalah saat merasakan malam Lailatul Qadar yang semakin menguatkan keimanannya kepada Allah SWT.
Di tengah kesibukan sebagai pejabat dan akademisi, keluarga tetap menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Bersama sang istri tercinta, Hj. Susmadiana, S.Pd, S.Mn, M.Si, M.Pd, beliau membangun keluarga harmonis yang penuh dukungan dan semangat perjuangan.
Buah perjuangan dan pendidikan yang beliau tanamkan kepada anak-anaknya pun membuahkan hasil luar biasa. Putri sulungnya, Yonnisa Qamilla Intan Atazsu, ST, M.Si, kemudian putranya Adv. dr. Mohammad Riedho Cahya Atazsu, SH, serta putra bungsunya Letda CPL Mohammed Riezqy Cahya Atazsu, S.Tr.Han yang berhasil dilantik sebagai Abituren Akademi Militer tahun 2023 di Istana Negara oleh Presiden Republik Indonesia.
Momen menyaksikan pelantikan putra bungsunya tersebut menjadi salah satu peristiwa paling mengharukan dalam hidupnya.
Di tingkat nasional, berbagai penghargaan berhasil beliau raih, di antaranya:
* Rekor MURI gelar terbanyak di Indonesia
* Guru Berprestasi Tingkat Provinsi
* Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional
* ASN JPT Teladan Nasional 10 Besar
* Kenaikan Pangkat Luar Biasa Pembina Utama IV/e
dan berbagai penghargaan lainnya.
Meski telah mencapai banyak prestasi, beliau tetap percaya bahwa hidup bukan tentang pujian manusia, melainkan tentang kebermanfaatan.
“Kalau ada kisah hidup saya yang baik dan bisa ditiru silakan diambil. Tapi saya sadar sebagai manusia biasa tentu tidak luput dari kesalahan dan kelemahan,” tutur beliau dengan rendah hati.
Bagi beliau, rahasia kesuksesan hanya ada tiga: bekerja keras, bertawakal kepada Allah, dan tidak pernah berhenti belajar.
Tokoh yang paling beliau kagumi adalah Presiden RI ke-3, BJ Habibie, karena dianggap sebagai simbol kecerdasan, pengabdian, dan cinta kepada bangsa.
Kini, Prof. Dr. Drs. Ir. H. Achmad Tarmizi tidak hanya dikenal sebagai pemegang banyak gelar, tetapi juga sebagai simbol perjuangan, ketekunan, kecintaan terhadap ilmu, pengabdian kepada bangsa, serta bakti kepada orang tua.
Kisah hidup beliau menjadi bukti nyata bahwa siapa pun bisa mencapai kesuksesan besar selama memiliki keberanian bermimpi, kemauan belajar, kerja keras, dan keimanan yang kuat kepada Allah SWT.
Pesan beliau kepada generasi muda Indonesia sangat sederhana namun penuh makna:
“Bekerjalah keras, bekerjalah cerdas, bekerjalah tuntas, dan belajarlah sepanjang hayat. Jangan pernah berhenti berbuat baik, terutama kepada ibumu.”
Sumber: Dari berbagai sumber dan wawancara secara langsung dengan narasumber.
Hapzon Effendi, Jurnalis MSM Pusat.









Comment