Berkurangnya Antusias Warga Jepara Saksikan Kirab Kerbau Lomban Tahun 2026

MediaSuaraMabes, Jepara – Pesta Lomban adalah tradisi syukuran tahunan masyarakat nelayan pesisir di Jepara, yang biasanya digelar seminggu setelah hari raya Idulfitri (Syawalan). Puncak acara biasanya dengan diadakannya pagelaran wayang kulit, Tari-tarian khas Nepayan, larungan kepala kerbau ke tengah laut, sekitar Pulau Panjang, serta ditutup dengan perang kupat lepet sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut dan do’a keselamatan.

Seperti Kirab pagi ini menjadi penanda dimulainya rangkaian tradisi Pesta Lomban di Kabupaten Jepara. Seekor kerbau bule diarak dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu menuju Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara, Jumat (27/3/2026).

Namun Kirab kali ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, dulu masyarakat selalu tumpah ruah turut dijalan ikut serta mengantar kerbau yang bakal disembelih di Rumah Pemotongan Hewan untuk sesaji larungan, dengan serentak melantunkan sholawat lalu dilanjutkan lagu dan tarian khas nelayan pesisir, yang menandakan kegembiraan masyarakat Nelayan yang diiringi tabuh Rebana dan Gamelan.

Padahal Lurah Ujungbatu, Siswanto sudah mengintruksikan ketua RT/RW se Kelurahan Ujungbatu, untuk menghadirkan warga guna mengikuti Kirab Kerbau Lomban 2026. Menindak lanjuti surat dari Sekda Jepara No.400.6/12, tanggal 17 Maret 2026., Perihal Kirab Kerbau (lomban) 1447H.

Salah satu sesepuh warga Ujungbatu, Bapak Ahmad saat diwawancarai awak media terkait antusias warga mengikuti kirab hari ini mengatakan, turunnya antusias warga untuk menyaksikan pagelaran budaya bukan karena alasan bosen atau adanaya perubahan zaman, terkikisnya budanya karena sejarah yang mulai terpenggal ceritanya atau trah sejarahnya yang mulai tersingkirkan.

“Turunnya antusias warga untuk menyaksikan pagelaran budaya seperti kirab kerbau pagi ini, bukan karena alasan bosen atau adanya perubahan zaman. Terkikisnya budanya itu karena sejarah yang mulai terpotong alur ceritanya atau trah sejarahnya yang mulai tersingkirkan,” ujarnya.

Lanjut, Ahmad juga menyampaikan, sejatinya pesta lomban adalah warisan budaya leluhur masyarakat nelayan jepara, khususnya nelaya kelurahan Ujungbatu, yang dahulu diprakarsai oleh H. Sidiq Harun, saat masa itu beliau menjabat sebagai kepala Desa Ujungbatu. Dimana dulu seluruh prosesi kegiatan pesta Lomban dari mulai persiapan hingga puncak acara, melibatkan warga nelayan dalam pelaksanaanya, dari penyembelihan hewan, pengolahan daging, pentas kesenian hingga acara spiritual.

“Padahal prosesi lomban adalah ritual syukuran masyarakat nelayan, khususnya nelayan Ujungbatu dan sekitarnya. Kalau Warga Nelayan tidak dilibatkan, semaraknyapun berkurang, karena rohnya sejarah itu sendiri tidak ikut andil.” ungkapnya.

“Sekarang segala prosesi sepenuhnya ditangani langsung oleh Dinas-dinas terkait, seperti seniman pengiring malah dari luar desa luar bukan dari kelurahan Ujungbatu dan pengolahan (masak) daging yang bakal dibagikan kemasyarakatpun diolah oleh dinas dan masih banyak yang tidak sesuai dengan benang merah acara yang sangat sakral bagi masyarakat Nelayan tersebut, jadi nilai semarak gotong royong dalam menyambut pesta Lombanpun sirna.” pungkasnya.

(Sumber Dhoni)

Red Priyono

Supriyono

Comment