MediaSuaraMabes, Jambi – Pada masa saat ini dimana perkembangan teknologi yang begitu pesat ketika kita ingin mengakses informasi pada media sosial sangat memudahkan kita untuk mencari informasi yang kita inginkan dengan akses yang sangat luas, maupun kita bertanya mengenai Kesehatan mental, pasti dari berbagai sumber keluar tentang yang kita cari pada era digital saat sekarang ini.
Menurut WHO (2023), sekitar 70% remaja merasa cemas saat menggunakan media sosial untuk mencari informasi kesehatan mental. Adanya sebuah study dalam jurnal of Medical Internet Research menemukan bahwa sebanyak 59% remaja berusia kisaran 13-18 tahun secara rutin menggunakan internet untuk mendiagnosis diri sendiri terkait masalah Kesehatan mental, informasi ini menjelaskanhan bahwa akibat self-diagnosis digital adalah fenomena global dan semakin mengkhawatirkan banyak daring (JMIR,2023).
Sangat sering dipicu oleh akses yang mudah di capai secara online. Peristiwa ini semakin banyak terjadi dan mengkhawatirkan karena para remaja sering mencari informasi Kesehatan secara mandiri melalui platfrom figital yang dapat memperburuk kecemasan para remaja dari pada menyelesaikan perasaan yang sedang terjadi.
Pada artikel di dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional menyoroti bahwa self-diagnosis telah berkembang menjadi norma budaya di kalangan remaja generasi Z di Indonesia, dan media sosial sangat berperan penting dalam penyebaran informasi walaupun membawa resiko.
Fenomena self-diagnosis ini dipicu karena mudah di akses dimana media seperti Tiktok dan Instagram sangat berperan penting pada masa sekarang meski beresiko tinggi terhadap salahnya diagnosis akibat kurangnya validitas profesional pada iformasi yang di sebarkan. Pada essay ini akan akan mengeksplorasi bagaimana kebiasaan ini membentuk prilaku sehari-hari remaja Indonesia, manfaat, resiko, dan solusi yang perlu di ambil untuk menyeimbangkannya.
Diera sekarang para remaja sebagai generasi yang lahir dan besar pada era digital yang mudah mengakses apapun yang di ketik di suatu media untuk mencari tahu suatu hal yang membuat mereka penasaran, karena pada zaman sekarang ini mereka lebih mudah mengetahui suatu hal yang membuat mereka penasaran.
Remaja sering kali menggabungkan di dalam pencarian tentang informasi Kesehatan ke dalam rutinitas sehari-hari mereka. misalnya ada seorang remaja yang bangun di pagi hari merasa badannya capek atau sulit untuk berkonsentrasi, yang sangat sering di kaitkan ketika mereka di sekolah atau pada hubungan di lingkungan sosia.
Kebiasaan yang sering terjadi pada zaman sekarang ini tidak hanya merubah cara remaja itu memandang Kesehatan diri mereka sendiri, tetapi juga mempengaruhi interaksi sosial pada remaja, atau ketika mereka mengambil Keputusan pada kehidupan sehari-hari, dan terganggunya pola makan atau pola tidur seseorang disebabkan karena merasakan permasalahan terhadap diri mereka.
Salah satu dampak yang harus di tingkatkan adalah pentingnya peningkatan kesadaran diri kita sendiri terhadap Kesehatan mental kita sendiri yang tidak boleh diabaikan terutama pada remaja, sadar terhadap diri kita sendiri yang artinya kita mampu memahami perasaan kita terhadap apa yang terjadi atau apa yang kita rasakan pada diri kita.
Pada zaman sekarang ini banyak remaja yang peduli terhadap Kesehatan mental mereka tapi sayangnya banyak juga yang salah melakukan self-diagnosis sendiri dengan mengandalkan media sosial tanpa adanya bantuan profesional. Padahal self-diagnosis tanpa adanya bantuan profesional dapat memperburuk gangguan kecemasan atau depresi, bahkan dapat memicu rasa takut yang berlebihan ataupun juga bisa salah persepsi terhadap kondisi mental diri kita sendiri.
Self-diagnosis juga menurunkan kemampuan remaja dalam mengatasi stres dan mengelola emosinya, apalagi pada masa remaja masih sangat labil dalam mengambil Keputusan yang seharusnya, seperti ketika mereka bertanya kepada media digital tentang perasaan yang sedang mereka alami lalu media itu memberi tahu kalo remaja tersebut terkena gangguan mental pasti remaja itu langsung percaya tanpa mencaritahu lebih dalam tentang gangguan mental tersebut.
Dan para remaja juga sangat cepat menyerah terhadap perasaan mereka sendiri dan tidah mau berusaha untuk mempeprbaiki keadaan yang mereka rasakan seperti kondisi yang menurutnya sudah parah atau sudah tidak dapat di ubah.
Padahal kemampuan untuk mengendalikan stress ataupun mengendalikan emosi adalah hal yang sangat penting agar remaja bisa tubuh lebih kuat secara mental dan emosional.
Self-diagnosis ini merupakan langkah dimana individu menilai atau mengambil sebuah kesimpulan terhadap mental mereka sendiri berdasarkan informasi dari internet, media sosial, atau pengalaman dari seseorang yang pernah dia denger dari kehidupan dia.
Walaupun sebenarnya tujuan nya bisa di bilang baik karena ingin mencoba memahami diri sendiri dan juga untuk mencari bantuan yang cepat dengan menggunakan platform media di atas. Ketika remaja merasa stress, sedih berkepanjangan, emosi yang meledak-ledak, seharusnya para remaja bisa mencoba bercerita terlebih dahulu ke pada orang terdekat, orang tua, ataupun bisa langsung ke pada tenaga profesional seperti psikolog karena tenaga profesional itu dapat di percaya dan menjaga kerahasian data yang kita berikan, dengan pergi keranah profesional itu kita bisa menjaga Kesehatan mental dan adanya rasa aman pada diri kita sendiri tanpa harus memikirkan pandangan orang lain terhadap kita.
Pada fenomena self-diagnosis yang lagi maraknya terjadi pada saat sekarang ini kebiasaan baru para remaja, sebenarnya hal ini bagus untuk para remaja memahami lebih dalam tentang dirinya, rasa ingin tahu tentang diri sendiri bukan berarti kita harus bisa mendiagnosis diri sendiri, tetapi kita harus belajar tanda-tanda dari diri kita sedang membutuhkan bantuan dan kita tidak boleh merasa takut untuk mencari bantuan tersebut.
Itu merupakan suatu hal yang nyata terhadap kepedulian terhadap kesehatan mental kita sendiri. Para pemerintah dan sekolah juga perlu mengintensifkan program literasi Kesehatan mental di sekolah, seperti yang sudah mulai berjalan di beberapa wilayah di Indonesia. Pelatihan terhadap guru dan tenaga Kesehatan juga penting agar bisa menjadi pendamping para siswa untuk mengenali tanda-tanda dari gangguan mental, pemanfaatan teknologi pada saat ini juga bisa menjadi alternatif untuk bimbingan awal dalam pembelajaran.
Di era digital para remaja bisa mengakses informasi dengan mudah mengenai Kesehatan mental, membuat para remaja mengetahui kondisi psikologis yang sedang dialami, pada era digital saat ini pasti ada dampak positif maupun dampak negatifnya mengenai self-diagnosis ini. Pada kemajuan zaman ini meningkatnya kemampuan para remaja dalam mengetahui tentang Kesehatan mental mereka dengan cara mengenali kondisi mental diri sendiri berdasarkan informasi yang ada pada internet.
Para remaja di harapkan bisa menyaring informasi dengan baik dan berhati-hati dalam mencari informasi yang akan di ambil, sebaiknya informasi dari internet ini di jadikan sebagai ilmu pengetahuan kita terhadap Kesehatan mental, bukan untuk mengambil diagnosis sendiri terhadap diri kita.
Dukungan dari keluarga atau lingkungan sosial yang terbuka juga sangat penting dalam membantu remaja untuk mengatasi masalah Kesehatan mental dan juga memperkuat keberanian pada remaja dalam mencari bantuan pihak profesionalnya, dengan adanya dukungan dari keluarga remaja cenderung memiliki kondisi mental yang lebih stabil.
Namun, para remaja tetap perlu memahami bahwa self-diagnosis tidak boleh menggantikan peran tenaga profesional, informasi yang di dapat pada platform cukup di jadikan sebagai pengetahuan untuk mengenal diri kita lebih dalam bukan untuk menegakkan diagnosis terhadap diri kita secara mandiri.
Kalo misalnya gejala yang kita rasakan emang semakin parah kita bisa pergi langsung ke ahlinya seperti psikolog maupaun konselor, dengan pemahaman kita yang bijak pada era digital ini menjadi hal yang positif bagi remaja untuk mengenali diri dan lebih sadarnya pada pentingnya Kesehatan psikologis terhadap diri kita.
Algoritma pada media sosial seringkali menampilkan konten dengan reaksi emosional yang sangat tinggi, yang dapat memperburuk perasaan cemas atau takut yang berlebihan, hal ini berkontribusi pada meningkatnya self-diagnosis yang salah dan munculnya stress pada para remaja.
Ketika kita tidak bijak untuk menyaring informasi tentang self-diagnosis ini adanya resiko kesalahan terhadap mental kita sendiri, seperti pada era digital ini banyaknya remaja yang menganggap bahwa dirinya mengalami gangguan hanya karena merasa gejala yang di jealaskan di internet mirip dengan apa yang sedang mereka rasakan, padahal bisa saja itu hanya hal yang terjadi secara sementara karena ada beberapa faktor yang memancing hal itu terjadi dengan sendiriya.
Hal ini bisa membuat salah persepsi terhadap diri kita sendiri, karna terlalu percaya terhadap yang di tunjukkan pada media tersebut membuat timbulnya kecemasan yang berlebihan terhadap diri sendiri dan menjadi kurangnya rasa percaya diri kita. Dengan kesadaran dan mendapatkan panduan yang benar para remaja dapat memanfaatkan kemajuan ini sebagai sumber ilmu yang dapat mereka ambil.
Solusi yang bisa kita dapat yaitu meningkatkan literasi Kesehatan mental sejak dini agar mereka bisa memilah apa saja yang bisa mereka ambil dari media tersebut, remaja juga perlu dibekali pengetahuan tentag gangguan Kesehatan mental, gejala-gejala dari Kesehatan mental, serta memberi tahu kepada remaja kalo tidak bisa mengambil diagnosis sendiri karena yang bisa mengetahui masalah Kesehatan mental itu adalah tenaga profesional yang sudah mempelajari ilmu Kesehatan mental itu sendiri.
Para sekolah juga bisa mengadakan edukasi dan penyuluhan tentang Kesehatan mental agar para siswa memahami ataupun mengetahui gejala terhadap Kesehatan mental tersebut, para pemerintah juga bisa mendorong penyebaran informasi yang dapat di percaya melalui media sosial menggunakan situs resmi, sehingga para remaja tidak mudah unutk terpengaruh oleh sumber yang tidak dapat dipercaya.
Fenomena self-diagnosis pada era digital dikalangan remaja merefleksikan kemudahan dalam mengakses informasi Kesehatan mental pada era sekarang yang berdampak positif maupun negatif. Meskipun meningkatnya kesadaran remaja terhadap kondisi mentalnya, kecenderungan mendiagnosis diri tanpa bantuan profesional dapat memperburuk kecemasan, depresi, dan memicu bisa salah persepsi. Dan juga mempengaruhi interaksi sosial dan pengambilan Keputusan pada kehidupan sehari hari.
Untuk mengatasi resiko ini, peningkatan literasi Kesehatan mental sejak dini sangat penting agar remaja dapat memilih informasi dengan bijak. Dukungan dari keluarga, sekolah, tenaga Kesehatan, maupun edukasi tentang konsultasi kepada profesional sangat penting. Pentinggnya unutk memilah informasi agar bisa memanfaatkan teknologi secara optimal tanpa mengorbankan kesejahteraan mental para remaja.
Penulis: Awlia Aqin Milanda Putri G1C124032
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi(UNJA)
Dosen Pengampu:
1.Annisa Dianesti Dewi, S.Psi., M.Psi.
2.Dr. Nofrans Eka Saputra, S.Psi., M.A.
3.Azkya Milfa Laensadi, S.Psi., M.Si.
4.Ayu Ulivia, M.Pd.
5.Agung Iranda, S.Psi., M.A.
- Konten Medsos Seperti IG, TIKTOK, FB Bukan Produk Pers dan Tidak Dilindungi UU Pers - December 29, 2025
- Aslam Tim Kuasa Pelapor atas dugaan perbuatan tindak pidana pemberian keterangan palsu dibawah sumpah pada pengadilan agama Jakarta Barat, Perkara Nomor: 1015/Pdt.G/2025/PA.JB - December 22, 2025
- Maraknya Self-Diagnosis di Kalangan Remaja Menjadi Kebiasaan Baru Pada Era Digital - December 13, 2025









Comment